Dikotomi

DikotomiNo caption needed

Konsep anak baru tampaknya memang dapat kita temui di mana saja dan tak terbatas pada satu generasi saja. Kalau diperhatikan, hal ini seperti berlaku turun-temurun yang tak jarang berujung pada yang namanya perisakan (bullying).

Mungkin kita masih ingat zaman ketika kita sekolah dulu, di mana ada saja kakak kelas yang bertingkah semena-mena ke adik kelasnya. Beranjak dewasa sedikit, kita masih bisa temui itu di dunia kampus. Ah, mungkin beberapa dari kamu masih ada yang mengingat pengalaman ketika masa-masa orientasi mahasiswa baru.

Baru, kata itu seolah menjadi sebuah pembenaran bagi si lama untuk bertindak menurut pemahamannya sendiri. Karena baginya yang baru itu ibarat gelas tak berisi. Padahal, yang lama, atau kita sebut saja si senior, itu hanyalah memiliki kesempatan untuk tahu lebih dulu dibanding juniornya. Dan itu tidak membuktikan apa pun mengenai siapa yang hebat dan siapa yang lemah.

Kalau mau tengok sedikit dalam keseharian, terkadang yang lebih dulu itu tidak lebih tahu kok dibanding dengan yang lebih muda. Gak percaya? Ponsel pintar contoh sederhananya. Kalau ada yang bingung cara mengoperasikan ponsel pintar, kira-kira ke mana mereka akan meminta tolong? Ke yang lebih muda toh? Orang sekarang menyebutnya dengan generasi Y atau banyak juga yang menyebutnya dengan millenial, karena mereka terlahir dan hidup dalam masa di mana perkembangan teknologi begitu pesat.

Sekali lagi, itu tidak membuktikan apa pun soal siapa yang hebat dan siapa yang sebut saja bodoh. Karena pada dasarnya kita itu butuh berbagi, suka atau tidak suka.

Yang lebih dulu tahu berbagi soal pengalaman dan pengetahuannya, tanpa harus merasa diri lebih tinggi. Sementara yang generasi setelahnya, berbagi mengenai apa yang mereka ketahui dari perkembangan dunia yang mungkin saja tak diketahui generasi pendahulu, tanpa harus merasa lebih hebat.

Dikotomi ini realitasnya memang tak hanya terjadi saat masa-masa yang paling indah (baca: remaja). Kantor atau sebut saja dunia kerja, yang idealnya dipenuhi dengan orang-orang dewasa yang profesional, terkadang malah justru menjadi tempat tumbuh suburnya dikotomi si baru dan si lama. Bila ada persaingan tak sehat, atau bila merasa kalah bersaing, dikotomi itu bisa saja nantinya menjurus pada perisakan.

Saya sendiri merasa beruntung pernah bekerja di tempat yang memandang isu dikotomi dan perisakan itu dengan serius. Percayalah, dikotomi dan perisakan itu jika tak segera ditangani bisa mengarah pada penurunan kualitas kerja.

Tapi saya sendiri juga harus jujur mengakui, di masa SMA dulu, saya pernah merasa menjadi orang hebat yang membuat saya bertindak semena-mena ke adik-adik kelas saya. Apalagi saat itu kami semua ada di dalam kelompok Paskibra. Saat itu, entah mengapa seolah tubuh saya mengirim sinyal kepuasan ke sistem limbik di otak purba saya begitu melihat adik-adik kelas saya yang terlihat menderita.

Maka itu saya sendiri sudah tidak heran ketika bertemu dengan orang-orang hebat, menurut penilaian mereka sendiri, yang merendahkan orang lain di bawahnya, termasuk para juniornya. Karena setidaknya saya sendiri pernah menjadi bagian dari itu.

Di kantor misalnya, kita bisa saja menemui individu-individu arogan dan masih membawa-bawa kejayaan di masa lampau sebagai sebuah pakem yang harus diikuti (mungkin) hingga akhir zaman. Pokoknya, siapa yang tidak sesuai dengan pakem itu, sama saja dengan melakukan kesalahan. Padahal, dunia berubah dan akan terus berubah. Saking dinamisnya sekarang sampai bermunculan lagi kan kelompok bumi datar? #eh

Sementara salah satu bentuk perisakan yang mudah ditemui misalnya sindiran pedas untuk memberi tekanan secara terus-menerus. Ada juga yang menyebarkan gosip untuk merusak reputasi rekan kerja. Serius, ini ada.

Sejujurnya, di sisi lain, menyalahkan korban perisakan atau dikotomi ini karena menjadi pihak yang dianggap lemah dan tak bisa melawan sepertinya memang merupakan sesuatu hal yang kurang bijak. Tapi, kalau terus dibiarkan seperti ini, khawatir di kemudian hari malah akan menggerus kepercayaan diri sang korban. Pun halnya dengan budaya dikotomi ini yang tak akan pernah terputus dari satu generasi ke generasi lainnya bila tak ada keseriusan soal ini di dalamnya.

Kalau sudah begini, ingin rasanya diri ini berkoar-koar bak seorang aktivis berjaket kuning yang biasa terlihat di sekitar gedung beratap hijau itu untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Meski saya sendiri tak berani mengklaim diri serupa dan seheroik para aktivis di sana yang berteriak-teriak untuk memperjuangkan rakyat saat belum ada satu perut rakyat pun yang berhasil saya kenyangkan.

Setidaknya, izinkan saya untuk tak lagi mendustakan nikmatnya karya sastra. Karena kita tahu, bait-bait syair dahulu dijadikan penyemangat para panglima sekelas Khalid bin Walid dan Shalahuddin Al-Ayyubi di medan jihad. Demikian halnya dengan lawan-lawan mereka saat itu.

Sementara saat ini, yang kita perlukan hanyalah sebuah semangat. Semangat untuk berubah dan membawa perubahan. Teringat kemudian oleh saya satu penggalan puisi dari seorang penyair yang kerap menyuarakan ketertindasan lewat karya sastra dan kata-katanya yang mampu menggugah jiwa.

“Maka hanya ada satu kata: lawan!”*

 

* bersambung…