Mari Coba Pahami Sekali Lagi

Mari Coba Pahami Sekali LagiBersama di tengah perbedaan. Foto: BPMI Setpres

“Jadi karena itulah menurut pendapat saya setiap tokoh harus benar-benar menjaga kesejukan, ketenangan, dan tutur kata supaya rakyat kita tidak emosional. Bangsa kita kan bangsa yang cukup emosional. Terbawa perasaan, terbawa sakit hati. Kalau sudah disakiti lama sembuhnya. Ya kan?”
– Prabowo Subianto

Pertama, perlu saya tuliskan bahwa saya merasa khawatir bila hanya mengutip bagian yang sebenarnya ingin saya fokuskan kali ini. Saya khawatir akan berhadapan dengan kasus serupa petahana Gubernur DKI Jakarta yang sedang ngehits itu. Karena itu saya kutip utuh pernyataan beliau agar terlihat jelas konteks pembicaraannya.

Kedua, untuk diketahui bahwa pernyataan di atas disampaikan beliau sambil menyeruput segelas teh hangat penuh keakraban bersama Presiden Joko Widodo di beranda Istana Merdeka, Kamis, 17 November 2016. Saat itu, Prabowo ditanyakan oleh seorang jurnalis mengenai penolakan-penolakan beberapa pihak yang mengaku sebagai masyarakat setempat saat pasangan petahana dan wakilnya berkampanye di sejumlah lokasi.

Bangsa kita itu bangsa yang cukup emosional. Mudah terbawa perasaan dan sakit hati. Walau tidak berlaku mutlak, tapi perlu saya akui bahwa sedikit banyak saya setuju terhadap pernyataan tersebut.

Rasanya akan lebih asyik kalau kita bicarakan soal aksi unjuk rasa 4 November itu. Percayalah, tak akan banyak masyarakat yang bergabung saat itu bila emosi tak bermain di dalamnya. Ditambah keyakinan sebagian besar orang bahwa itu dilakukannya sebagai upaya pembelaan terhadap Tuhan maupun agama.

Tidak, sekali-kali tidak! Saya tidak ingin membahas soal Al-Maidah ayat 51 itu. Meski saya seorang muslim, saya bukanlah pakar di bidangnya. Pun terhadap hal-hal lain, atau bahkan semuanya, saya pun bukanlah siapa-siapa dan apa-apa. Tanpa menunggu lebaran kuda™, mari sejenak perbaiki posisi duduk Anda, kita sedikit berbicara seputar emosi tadi.

Jika kita sebut Buni Yani, mungkin hanya beberapa atau sebagian kecil dari demonstran itu yang setidaknya pernah mendengar nama itu. Kalau memang benar demikian adanya, maka mungkin saja Prabowo benar bahwa kita memang cukup emosional.

Siapa yang tidak kenal Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan panggilan Ahok? Sifatnya yang koppig (keras kepala), diberitakan arogan, dan tutur kata yang ceplas-ceplos menjurus kasar itu mungkin sudah melekat di sebagian besar benak warga Ibu Kota. Karena sifatnya itu pula saya rasa perlu kita akui dirinya banyak tidak disukai, termasuk oleh saya sebenarnya.

Ketidaksukaan itu seolah menemukan momentumnya untuk bangkit menjadi sebuah kebencian ketika Ahok keseleo lidah atau dalam istilah Jawa modernnya, slip of tongue. Itulah yang mungkin menimbulkan resonansi nyaring sebagian besar masyarakat terhadap dirinya. Emosi? Apapun alasannya, baik itu karena alasan keagamaan maupun lainnya, tampaknya memang emosi memainkan peran penting di sini.

Masyarakat yang sejak awal mungkin tak pernah baca koran pun tersulut emosinya gara-gara perkataan dibohongi pakai Al-Maidah ayat 51 itu. Ditambah dengan kontribusi informasi liar yang berseliweran di linimasa media sosial, maka BOOM, meledak! Media sosial ini juga yang membuat seorang Joko Widodo sampai geleng-geleng kepala.

“Isinya, haduh, gak bisa ngomong saya,” kata presiden pada satu waktu.

Tapi, seperti sebuah lilin, tak akan menyala sang api bila tak ada yang menyulut. Demikian halnya dengan emosi manusia, tak akan bangkit bila tak ada yang memprovokasinya. Umat ini seakan terdiri dari orang-orang awam yang tidak kritis dengan menelan mentah-mentah tiap informasi yang diterimanya. Mereka seperti tetiba yang paling paham soal Al-Maidah ayat 51 itu tanpa mungkin tahu Al-Hujurat ayat 6 dan 12. Di atas saya sudah janji untuk tidak membahas soal-soal ini, jadi monggo dilihat di kitab kesayangan Anda.

Hanya karena opini publik sudah terbangun bahwa Ahok melakukan penistaan, maka ketika ada orang yang berbicara berbeda dari itu lalu dianggap kontroversial. Bahkan, ulama wahid sekelas Buya Syafi’i pun disebut ngelantur oleh sejumlah pihak hanya karena ia menyatakan bahwa Ahok tidak mengatakan Al-Maidah itu bohong. Itu semua terjadi hanya karena kobaran emosi semata.

Sekarang, siapa juga yang tak kenal dengan Prabowo? Masih ingat bagaimana emosi beliau meledak jelang Komisi Pemilihan Umum mengumumkan hasil perhitungannya di 2014 silam? Siapa yang mengira kalau dirinya dan Joko Widodo yang bersaing keras saat itu kini bisa duduk semeja berbincang seolah keduanya merupakan teman yang tidak bertemu setelah sekian lama. Memang, inilah politik. Suatu waktu bisa jadi lawan, tapi di waktu yang lain bisa jadi kawan. Pun meskipun itu hanyalah sebuah topeng dan pencitraan.

Saya pun berharap demonstrasi dan suasana kebencian kemarin itu juga hanya merupakan dinamika politik semata. Dinamika yang hanya digerakkan oleh pihak-pihak tertentu yang tak memahami bahwa mempermainkan isu sara dan emosi masyarakat itu sangat berbahaya. Saya benar-benar berharap yang kemarin itu bukan murni persoalan akidah dan keyakinan.

Seperti tampak pada foto di awal tulisan ini, bila keduanya yang dahulu berseteru dan bersaing keras saja kini bisa duduk bersama, mengapa kita tidak bisa? Sudah terlalu banyak perpecahan di bangsa kita. Mari coba kita pahami sekali lagi.