Ini Tentang Rencana…

Saya itu sebenarnya tidak suka dan tidak begitu nyaman bila ditanyakan mengenai rencana. Entah itu rencana dalam jangka pendek maupun panjang, rencana kecil maupun besar. Sering sekali saya ditanyakan mengenai rencana dan saya tidak begitu mahir untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Bukan tanpa sebab kecenderungan saya ini pastinya. Yang saya ingat pasti, dulu saya adalah orang yang suka merencanakan sesuatu, mendetail point to point. Beberapa tahun lalu saya masih bisa melakukannya. Tapi karena suatu hal yang terjadi menyebabkan saya untuk berpikir ulang mengenai perencanaan hingga akhirnya terbentuk pola dan kebiasaan pada diri ini untuk tidak terencana, atau saya lebih suka menyebutnya let it flow. Dibanding merencanakan, saya itu orang yang melihat dulu apa yang sedang terjadi tanpa mau repot berpikir berat, ke mana kemudian saya akan terbawa, mempertimbangkan apa yang akan saya peroleh kalau saya melakukan A, B, ataupun C dan baru menentukan sikap. Resikonya adalah seringkali saya dianggap tidak konsisten.

Apa alasan saya yang pada akhirnya untuk tidak terencana itu karena saya menemui hambatan-hambatan di tengah jalan? Hmm… Bolehlah kau sebut begitu. Setidaknya saya akui hal tersebut adalah salah satu sebabnya. Jelas saya tahu bahwa segala sesuatu itu pasti ada saja pengganggu-pengganggunya. Tapi, kalau dipikir-pikir memangnya apa yang pasti di dunia ini selain ketetapan-Nya?

Maka itu jika saya ditanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berbau rencana saya lebih suka diam, tidak merespons. Paling banter akan saya jawab dengan “lihat nanti”. Atau kalau lagi alim sedikit saya jawab, “lihat ketetapan Allah nanti”. Karena biar bagaimanapun juga saya tidak mau orang lain berharap banyak kepada saya di samping saya sendiri yang merasa malas untuk terbebani dengan ekspektasi orang lain. Bukan berarti saya adalah orang yang ingkar janji, berniat pun tidak. Hanya saja saya sendiri memang tidak tahu jawaban apa yang harus saya buat.

Seorang dosen saya yang bergelar profesor itu sering mengatakan kepada saya, “Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian!”. Nampaknya, kalimat tersebut saat ini mampu saya jadikan pembenaran terhadap sikap saya. Ya, hanyalah sebuah pembenaran. Namun, bukankah manusia selalu mencari pembenaran terhadap apa yang ia perbuat?