Ketika “Ngamuk” Menjadi sebuah Indikator Pekerjaan

Siang itu, seusai acara yang disponsori oleh sebuah produsen es krim dilaksanakan, seorang Wali Kota murka. Bagaimana tidak, sebuah taman yang bertahun-tahun dirawat tiba-tiba rusak hanya dalam hitungan jam karena pelaksanaan acara tersebut. Kemarahan sang Wali Kota itu tentu saja disiarkan dalam berbagai pemberitaan. Dalam media online, dapat dilihat banyaknya netizen yang memuji-muji Wali Kota tersebut karena dianggapnya sudah melakukan pekerjaannya.

Dalam kesempatan lain, seorang Gubernur yang konon katanya seorang yang humoris, mendadak mencak-mencak ketika dengan mata kepalanya sendiri ditemukan praktek pungli di sebuah jembatan timbang. Tentu saja tak lupa, seorang cameraman dan fotografer mengabadikan kemarahan tersebut. Pemberitaannya pun tersebar luas di media. Lagi-lagi, banyak masyarakat yang memuji karena sang gubernur dianggapnya sudah melakukan pekerjaannya.

Terkini, seorang Menteri marah besar. Ketika ditemukannya sebuah prosedur, yang menurut sang Menteri dilewati oleh sebuah maskapai penerbangan, sebelum sebuah pesawat diterbangkan. Seperti biasa, kata kunci “marah” pun menghiasi judul pemberitaan terkait Menteri tersebut setelahnya. Reaksi masyarakat? Entahlah, mungkin juga memuji sang Menteri terhormat itu.

Jadi ternyata, bekerja itu gampang. Lakukan sebuah kunjungan mendadak. Lihat situasi dan kondisi, syukur-syukur ketemu sebuah permasalahan. Lalu ledakkan suasana dengan kemarahan. Eits, jangan lupa untuk sebelumnya membawa wartawan di samping. Tunggu dalam hitungan jam atau hari. Boom! Tiba-tiba banyak pujian mengalir untuk Anda yang dianggap telah melakukan pekerjaan dengan baik.

Selamat!