Kolaborasi: Mungkin Selama Ini Kita Salah Melakukannya

Kolaborasi: Mungkin Selama Ini Kita Salah Melakukannya Gambar diolah dari akun Flickr Lollyman.

Hampir semua orang mungkin pernah atau selalu bekerja dalam sebuah tim. Bahkan, di perkantoran misalnya, apa yang disebut dengan tim itu berada pada satu baris kubikel meja yang sama. Ya itulah yang katanya dinamakan tim, kumpulan orang yang berkumpul di tempat yang sama dan saling berbagi opini guna mewujudkan tujuan tim itu sendiri. Lalu, bagaimana dengan kumpulan orang di baris kubikel lainnya?

“Itu urusan mereka, gak usah kita ngurusin kerjaan orang lain,” ucap seorang tokoh imajiner yang saya buat di benak saya sendiri.

Kalau berbicara soal tim, sepertinya banyak orang beranggapan demikian. Kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan atau diputuskan, maka cari waktu yang tepat, kumpulkan semua anggota tim, dan ehm… rapat!

Pertanyaannya, apakah semua orang yang ada dalam baris kubikel yang sama tersebut memang merupakan orang yang tepat? Akui saja, tidak selamanya “dream team” itu bisa kita dapatkan.

Salah seorang pendiri Apple Inc., Steve Wozniak, suatu ketika pernah berujar, “Work alone. Not on a committee. Not on a team.”

Alih-alih mengumpulkan semua orang untuk berkumpul dalam baris kubikel yang sama, maupun bertemu langsung dalam pertemuan rapat misalnya, mengapa kita tidak mencoba untuk membantu seseorang yang kita kenal agar dapat mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka?

Bantu mereka, baik yang ada dalam lingkaran kubikel kita, maupun dari luar kubikel. Dari divisi sebelah, dari manapun itu. Semuanya! Bantu mereka untuk dapat bekerja sendiri dan menemukan apa yang menjadi kelebihan mereka.

Jangan lupa, berikan kail dan bukan tumpukan ikan. Keduanya memang memiliki tujuan yang sama, namun dengan cara yang berbeda. Buat saya, yang pertama pastilah memiliki dampak yang lebih positif ke depannya.

Memang, tidak ada jaminan buat orang yang kita bantu itu dapat berguna untuk kita sendiri di kemudian hari. Tapi percayalah, saya bisa menjamin bahwa di masa yang akan datang seseorang mungkin akan menyebabkan kita berada pada posisi sulit bila kita tidak mau membantu di saat ia butuhkan.

Membantu itu tidak mesti dari bidang yang kita kuasai sendiri kan? Menyemangatinya juga merupakan sebuah bantuan. Atau bahkan, menemukan hal remeh sekecil apapun itu dari kepribadian seseorang yang dapat membuatnya lebih produktif juga merupakan bentuk bantuan. Kalau ada niat, pasti ada jalan.

Pahami juga keinginan dan minat seseorang. Bila tak ingin ia lakukan, maka jangan paksa untuk lakukan. Temukan hal lain di mana ia bisa bermanfaat bagi kita dan semua orang. Ingat, tak semuanya diciptakan sama.

Yang paling penting itu bergerak! Ketika kita menyadari bahwa diri kita akan berguna untuk pekerjaan seseorang, coba bergerak! Tidak perlu berpikir kalau itu bukan bidang kerja kita, bukan urusan kita, ataupun ego-ego sektoral lainnya. Bila memang memiliki waktu luang, bergerak! Besar kecil tak jadi soal, sebab Allah yang menilai dan memandang.

Dengan bergabung bersama yang lainnya kita bisa mendapatkan pemahaman baru, bagaimana cara kita memandang sekitar kita. Mungkin saja kemampuan yang saat ini kita miliki akan semakin terasah. Mungkin saja dengan bergabungnya kita akan membuat orang lain di dalamnya akan semakin berkembang. Mungkin saja masih banyak keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan dibanding kerugian-kerugiannya. Dan mungkin saja, ah… itu bisa menjadikan Allah meridhai usaha kita.

Kolaborasi itu sesungguhnya tak terhalang sekat dan ego semata. Mungkin memang selama ini kita sudah salah melakukannya.