Mendayagunakan “Sampah”

Mendayagunakan “Sampah” Gambar diolah dari akun Flickr Stavos.

Adalah hal yang wajar ketika pimpinan Anda merasa puas dan bangga terhadap hasil kerja Anda, kemudian dijadikannya Anda sebagai orang kepercayaannya. Jika Anda merasakan hal yang demikian, berarti pimpinan Anda tahu bagaimana cara memperlakukan anggota timnya.

Adalah sebuah kelaziman: yang rajin mengungguli pemalas, yang cerdas akan menjadi terdepan dari yang tak belajar dari pengalaman, yang membela kebenaran dan keadilan akan melibas segala bentuk kejahatan. Hidup pahlawan bertopeng!

Tetapi menjadi tak wajar bila karena hal tersebut sebagian anggota tim lainnya tersisihkan begitu saja. Tersisihkan bagai sampah. Padahal seburuk-buruknya sampah pun masih dapat didaur ulang menjadi sesuatu dengan nilai guna yang melebihi wujud asalnya.

Tak akan ada yang suka dengan pemalas. Tak akan ada yang suka dengan penunda-nunda. Tak akan ada yang suka dengan yang tak bisa diandalkan. Pun saya demikian adanya. Namun, bukan berarti mereka tiada, dianggap tak ada.

Menganggap mereka tak ada sama saja dengan menambah masalah baru. Cepat ataupun lambat, dirasakan atau tidak, pihak lain akan terkena imbasnya. Sementara mereka yang tersisihkan pun akan selalu ada dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jadi, mau seperti itu terus?