Mereka itu Penakut

Kali ini saya cuma mau cerita sedikit saja. Sekitar beberapa tahun lalu, saya sekeluarga mencari sebuah rumah di wilayah Depok (Jawa Barat) setelah sebelumnya selama setahun sempat menyewa sebuah rumah kontrakan di sekitar wilayah yang sama. Akhirnya ketemu juga sebuah rumah yang kebetulan tinggal satu-satunya yang ditawarkan dalam sebuah cluster perumahan yang katanya khusus muslim itu.

Nah, sebelum melakukan transaksi, saya mendapatkan informasi dari tetangga kalau sebelum ini sudah ada yang menawar rumah tersebut dan sepakat soal harga, namun karena suatu hal si calon pembeli tersebut mengurungkan niatnya. Usut punya usut, ternyata di rumah tersebut pernah terjadi kasus bunuh diri.

Informasi tersebut tentu saja membuka jalan kami untuk “menggoreng” harga penawaran. Pada akhirnya disepakati jual beli rumah dengan harga yang sedikit di bawah harga jual. Di kemudian hari saya baru tahu bahwa orang yang bunuh diri di rumah tersebut adalah seorang pekerja bangunan yang mengerjakan rumah tersebut dengan alasan ditinggal menikah oleh pacarnya.

Jujur saja, kami tidak merasa khawatir dengan status rumah tersebut, dan sampai sekarang pun tidak pernah ada kejadian apapun seperti yang biasa ditayangkan di sinetron atau pun film-film horor itu. Namun, di awal-awal kami tinggal di sana, memang informasi tersebut cukup berpengaruh secara tidak langsung buat kami. Asisten rumah tangga di masa awal-awal kami tinggal di sana beberapa kali merasa takut dan mengundurkan diri hanya karena info murahan dari mulut ke mulut yang disebarkan para asisten rumah tangga lain di komplek perumahan tersebut.

Sebenarnya, intinya hanya satu: penakut!

Takut memang tidak selalu terkait tentang dunia gaib. Bahkan ada saja orang yang takut terhadap sesuatu yang disukai banyak orang. Memang takut itu nyatanya terdiri dari berbagai macam alasan. Ada saja yang takut tidak mendapatkan rezeki atau kekurangan rezeki sehingga dipasangkannya sebuah batu pada jarinya yang dia anggap bisa mendatangkan rezeki. Ada kan?

Ada juga yang takut kehilangan jabatan sehingga sedikit alergi mendengar kata “restrukturisasi” atau “perubahan”. Ada-ada saja alasan yang dilontarkan mereka menanggapi sebuah rencana perubahan yang belum tentu juga pasti terlaksana. Ada kan?

Dan yang terkini, ada juga yang takut tidak mendapatkan posisi strategis nan penting di pentas nasional. Ada saja kelakuan mereka sehingga membuat kegaduhan di mana-mana. Kini, setelah ketakutan mereka terbukti, sekarang apa yang akan kalian lakukan?

Apa?