Sebenarnya, Rakyat Sejahtera itu Milik Siapa?

Sebenarnya, Rakyat Sejahtera itu Milik Siapa? Koi adalah salah satu simbol kesejahteraan dalam budaya Tionghoa. Gambar diambil dari forwallpaper.com

Menyejahterakan rakyat adalah visi yang paling baku bagi para calon pemimpin di manapun ia berada. Tak peduli di negara mana, negara kaya maupun miskin, semua calon pemimpinnya pastilah setuju untuk memperjuangkan visi tersebut, atau setidaknya terlihat memperjuangkan, agar dapat merebut simpati rakyat. Menyejahterakan rakyat memang merupakan sebuah cita-cita mulia yang pantas diperjuangkan. Tak terbantahkan…

Wajar lah kalau memang kita, rakyat jelata nan jelita, mengharapkan pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Gak perlu yang gagah tampan dan berkuda putih, gak perlu juga yang ndeso tapi mengklaim berotak internasional. Yang mana saja gak masalah, asal yang penting itu rakyat bisa makan, rakyat bisa hidup tenang, rakyat punya pekerjaan. Pokoknya adalah rakyat itu harus serba berkecukupan, cukup buat kemana-mana naik taxi… :mrgreen:

Sebuah cita-cita mulia tentu akan menjadikan pewujudnya mulia pula. Ada calon pemimpin yang berusaha berpeluh keringat untuk maju menuju pucuk pimpinan tertinggi negeri ini. Waktu, janji-janji manis, dan uang jelas sudah dihamburkannya, dukungan pun mengalir dari segala penjuru. Dan alkisah beliau pun berhasil menduduki posisi tersebut. Setelahnya pun beliau berusaha keras mewujudkan visi menyejahterakan rakyat yang sebelumnya telah dicitakan.

Bagus? Jelas patut diteladani! Tapi pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan seandainya beliau itu gagal menduduki posisi kehormatan tersebut? Akankah cita-cita mulia untuk menyejahterakan rakyat itu masih dipegang teguh olehnya?

Apakah menyejahterakan rakyat itu hanya bisa atau hanya boleh dilakukan oleh seorang yang duduk di dalam istana megah di pusat ibukota itu? Apakah seseorang salah jika dirinya berpikir untuk menyejahterakan rakyat walau ia bukanlah orang nomor satu di negeri ini? Jika jawabannya tidak, maka kenapa seringkali seseorang menjadikan visi mulia tersebut sebagai tujuan dari ambisinya merebut pucuk pimpinan tertinggi negeri ini?

Apakah rakyat sejahtera itu harus melulu diasosiasikan dengan tingkatan tertinggi? Apakah kita tidak bisa menyejahterakan rakyat yang ada di dekat lingkungan kita sendiri? Dan apakah menjadi pemimpin itu harus melulu diasosiasikan dengan pemimpin negeri? Bisakah kita bisa untuk setidaknya menjadi pemimpin diri kita sendiri yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar?

Sederhananya, mengapa engkau harus menjadi pemimpin negeri ini dahulu baru kemudian bergerak untuk menyejahterakan rakyat?